sore smua,...
sori bru posting.kabar baik krna gw udh apal gol.VIII A bwt tabel periodik kimia,dan ngancurin sesi latihan paskib kamis kmaren.
ada kabar buruk,yg bikin amit"(getok"in 'pala ke meja)
bbrapa hari yg lalu (gw lupa kapan trjadinya)
kawasan R.E Martadinata,di daerah Jakut,Pluit.amblas!sekali lagi,saya ulangi
AMBLAS!kurang satu ah S-nya biar mantep,AMBLASS!
oke,amblas.sbenernya teori ini udah gw temuin pas gw masih SMP(beneran loh!).cuma krna baru kjadian,topik ini udah mnghangat.udah basi sbenernya ni topik,tpi biar gw prjelas deh.
rata",khidupan shari" masyarakat Jakarta mnggunakan air tanah untuk klangsungan hidupnya.jdi pke saluran gtu dri tanah.
krna air tanah trus menerus diisap,otomatis tanah trsebut mnjadi kopong.(kaya tahu sumedang yg ga pake isi itu loh!)
apalagi ditambah tak adanya daerah resapan air di Jakarta,dan prtumbuhan pnduduk yg pesat,memaksa pemerintah untuk membangun gedung" pencakar langit.shingga mmbuat lahan bumi kita ini smakin mnipis.
mnanggung beban berat yg dipikul.maka,trjadilah amblas.
oleh Ilmuwan dan Peneliti baru diteliti skarang.
(bru deh,ps ada kjadian,bru diteliti,ga ada antisipasi sih!gw aja udah tau dri jaman orok)
diperkirakan pda tahun 2050,Jakarta akan amblas.mnurut gw sih itu bener adanya,kcuali kalo pemerintah brtindak cepat bwt menyelametin Ibukota tercinta ini.adanya,Pemerintah malah berencana memindahkan Ibukota ke Kota lain.(telat..telatt)
gw kadang heran deh,sma Indonesia.Kemiskinan dimana",wabah penyakit,politik morat-marit,saham anjlok,SDMnya masih rendah,maunya menang sndiri.
hellowww???kapan kita bisa dianggap dimata dunia.sbagai bangsa yg kuat,berbudi luhur,gemah ripah loh jinawi yg slama ini dsematkan di pundak Nusatara????
berikut,adalah Ilustrasi kota Jakarta yg kelelep

serem gak tuh?padahal bru Ilustrasinya aja loh!
nah,bagi kalian yg tinggal di daerah Jakut,siap" ngungsi yaaa...hehehe
oke,itu secuil pikiran logika gw yg kadang suka gw prdalam dgn cara bengong.
(prcaya ato gak,walopun tampang cengengesan gini,gw suka mikir jauh ke depan,bung!)
Jadi,mnurut gw,peristiwa Lumpur Sidorajo,akan brdampak efek domino trhadap Jembatan Suramadu,dan skitarnya.
Hmm...coba deh bayangin,lumpur panas trus menerus kluar dri perut bumi,gas alami yg kluar,mmbuat tanah mnjadi kopong.sama sperti pnjelasan yg udah gw jabarkan.Sidoarjo akan amblas,shingga pda daerah Sidoarjo,akan membentuk sbuah Danau besar yg mnjadi selat.
tau kisah Pulau Jawa sma Bali itu trgabung gak?krna ada ksatria yg sakti mandraguna,Ia memisahkan Bali dan Jawa dgn sbuah keris.Gue lupa judulnya apa,pokoknya intinya itu.:p
Padahal,akalo ditelaah scara mndalam,gas alami itu kalo ditampung bisa jdi tabung gas loh!knapa ga dimanfaatin aja coba?
Jadi,mnurut gw,lumpur panas sidorajo akan brdampak kpada perpecahannya pulau Jawa.Oke,Manusia hanya bisa berbicara,tapi Tuhan-lah yg bertindak.
dan,ujung"nya pulau Jawa akan pecah mnjadi 3 bagian didaerah Brebes dan Sidoarjo.Tahunnya gw ga mau nentuin kapan.
Ayolahh...mau jadi apa negara ini.
(dulu gw punya kertas ramalah dri jaman kejawen,tpi ilang.maap ye :p)
pokoknya,dunia akan trpecah belah.kedudukan Amerika sbagai negara trkuat,akan digantikan oleh Cina.
kmudian,daerah Eropa akan brkurang populasinya krna perang antarsaudara yg mngakibatkan bnyak korban gugur hampir dri stengah penduduk Eropa.
Masyarakat Timur Tengah juga akan mngungsi k daerah Eropa yg kala itu sepi.
kalo bisa dijelasin,manusia tuh bagaikan telur diujung tanduk.
sbagai selingan,gw akan nyertain berita ttg pengamblasan Jakarta.
Amblasnya jalan RE Martadinata sepanjang 103 meter, Jakarta Utara merupakan peringatan bagi pemda Jakarta. Bahkan, para pakar dan aktivis lingkungan sudah mengingatkan ancaman lebih besar terhadap Jakarta, khususnya Jakarta Utara.
“Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) sudah memperingatkan Jakarta akan tenggelam jika Pemda Jakarta tidak peduli dengan pembangunan yang mengabaikan lingkungan,” ujar Selamet Daroyni, direktur Keadilan untuk Perkotaan Institut Hijau Indonesia kepada VIVAnews.com di Jakarta, 19 September 2010.
Peringatan itu disampaikan kepada Pemda DKI Jakarta sejak awal 2008. Isinya: Sebagian besar Kota Jakarta diprediksi akan tenggelam atau ditelan laut pada 2050. Penyebabnya, permukaan tanah terus menurun, banjir rob atau air laut pasang kerap menerjang, banjir kiriman rutin datang, proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut, serta arus laut yang bersifat merusak (abrasi).
“Kami perkirakan sebagian Jakarta mulai tenggelam pada 2030,” kata Selamet. Perkiraan ini bisa terjadi bila Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak segera mengantisipasi. Apalagi, hampir 50 persen wilayah Jakarta sangat rawan amblas, khususnya Jakarta Utara.
Amblasnya Jalan RE Martadinata, menurut dia, adalah salah satu pertanda buruk. Tanda buruk lainnya yang sudah pernah terjadi adalah banjir rob besar yang menenggelamkan jalan tol Bandara Soekarno-Hatta pada 2008, jebolnya Situ Gintung setahun kemudian, dan tahun ini banyaknya tanggul jebol. Itu termasuk jebolnya tanggul penahan air sepanjang 115 meter di bantaran saluran Kanal Barat yang terletak di jalan Sultan Agung, Setiabudi, Jakarta Selatan beberapa hari lalu.Pemindahan Ibukota Mengingat Isu Amblasnya Jakarta
Tujuh pakar dari berbagai bidang telah berkomentar mengenai wacana pemindahan Ibukota. Dari tujuh itu, hanya satu yang secara tegas menolak usul pemindahan.
Marco Kusumawijaya
Pakar yang menolak usul pemindahan itu adalah Marco Kusumawijaya, Direktur Rujak Center for Urban Studies. Arsitek yang sering dimintai komentar soal tata kota ini berpendapat, pemindahan Ibukota dari Jakarta tidak perlu.
“Masalah-masalah Jakarta dapat diperbaiki dengan biaya lebih kecil daripada ongkos memindahkan Ibukota jika tujuannya adalah untuk membikin pemerintahan nasional berfungsi lebih baik,” kata Marco di akun Twitternya, Selasa 3 Agustus 2010 lalu.
Fungsi yang dimaksud Marco adalah fungsi mengelola kepadatan Jakarta. Jakarta tidak lebih padat dari Tokyo, namun terbukti Ibukota Jepang ini berhasil mengelola lalu lintasnya sehingga tidak seruwet Jakarta. Marco juga menyebut, Jepang yang merupakan salah negara terpadat di dunia itu justru juga negara dengan tutupan hutan paling besar persentasenya.
Andrinof Chaniago
Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini adalah pendukung kuat pemindahan Ibukota. Andrinof yang mendalami kebijakan publik ini menyatakan, daya dukung Pulau Jawa khususnya Jakarta dan sekitarnya tak memadai lagi untuk Ibukota.
Andrinof menyatakan, satu bom sosial siap meledak di Jakarta 20 tahun lagi. Kesenjangan sosial kian tajam, kriminalitas tinggi, taraf kesehatan menurun. Gangguan jiwa meningkat.
“Kalau tak ada keputusan politik untuk pindah Ibukota, kita mungkin menghadapi ledakan sosial seperti Mei 1998,” kata Andrinof pada Kamis 29 Juli 2010. Solusinya bagi Andrinof, Ibukota harus dipindahkan ke sebuah kota baru di Kalimantan.
Yayat Supriyatna
Planolog dari Universitas Trisakti, Jakarta, ini mendukung upaya pemindahan Ibukota dari Jakarta. Menurut Yayat, Jakarta tidak pernah disiapkan secara matang untuk menjadi Ibukota dengan skala sebesar sekarang. Dari sekadar kota perdagangan, kemudian harus menampung aktivitas pemerintahan dalam skala besar. “Akhirnya apa yang terjadi?” kata Yayat. “Fungsi dan perannya tidak jelas.”
Sebagai pusat pemerintahan, beban itu bertambah dengan paradigma pemerintahan Orde Baru yang sentralistis. Pembangunan dirancang di Jakarta sehingga menjadi bias. “Kota ini lalu menjadi daya tarik yang besar bagi penduduk di luarnya,” kata Yayat. “Ujung-ujungnya, apa-apa Jakarta, tidak terpikir mengembangkan daerah-daerah di sekitarnya.”
Dan beban berlebihan itu baru terasa dekade belakangan. Jakarta mengalami kemacetan. Jakarta kekurangan air bersih namun di lain pihak kebanjiran di saat hujan sebentar. Lingkungan hijau juga tergerus oleh pemukiman.
“Idealnya, penduduknya hanya 4 sampai 5 juta jiwa, setengah dari sekarang,” kata Yayat. Namun statistik terakhir, kata Yayat, diperkirakan penduduk resmi Jakarta mencapai lebih dari 9,5 juta jiwa.
Solusinya, Ibukota Pemerintahan dipindahkan namun bukan dengan membangun kota baru. Membangun kota baru, kata Yayat, membutuhkan dana yang sangat besar. Jakarta tetap menjadi Ibukota Negara, namun pemerintahan mulai diredistribusikan ke daerah-daerah. “Misalnya ke Jonggol, Karawang, Kalimantan,” katanya.
Haryo Winarso
Planolog Institut Teknologi Bandung ini bersikap, pemindahan Ibukota jangan berdasarkan faktor Jakarta yang macet dan semrawut saja. Memindahkan Ibukota tidak serta merta menghilangkan segala masalah yang ada di Jakarta saat ini seperti kemacetan.
“Karena kalau alasannya untuk mengurangi kemacetan itu emosional, jangka pendek dan itu tidak benar,” kata Haryo Winarso kepada VIVAnews, Rabu 4 Agustus 2010.
Menurutnya Ibukota tidak dapat pindah ke dalam lokasi berdekatan seperti Jonggol dan Karawang karena hal tersebut hanya akan memperpanjang kemacetan. “Karena orang-orang yang terlibat pemerintahan tetap tinggal di Jakarta sehingga akan tetap macet,” katanya.
Jika Ibukota tetap berada di Jakarta maka solusinya adalah pemerintah harus menerapkan manajemen transportasi massal yang baik dan mengeluarkan kebijakan yang tidak populis seperti pembatasan kendaraan pribadi dan menaikkan tarif parkir. “Jika transportasi massal telah baik dan adanya pembatasan kendaraan pribadi maka kemacetan dapat berkurang, hal ini telah diterapkan di negara-negara lain seperti Singapura,” ujarnya.
Sonny Harry B. Harmadi
Pakar demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mendukung pemindahan Ibukota ke luar Jakarta dan bahkan ke luar Jawa. Sonny menilai, kepadatan penduduk dan pemusatan aktivitas yang terus meningkat di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi menjadikan daerah ini tidak lagi ideal sebagai kandidat Ibukota baru Republik Indonesia.
“Jabodetabek, bahkan seluruh Jawa, sudah terlalu penuh karena 55 persen penduduk Indonesia ini berdomisili di Jawa,” kata Sonny dalam dialog bertajuk ‘Urgensi Pemindahan Pusat Pemerintahan’ di gedung DPD, Senayan, Jakarta, Rabu 4 Agustus 2010.
Jika pusat pemerintahan dipaksakan dipindah ke sekitar Jakarta, seperti Jonggol, Kabupaten Bogor, maka Sonny yakin hal itu hanya akan bertahan dalam waktu pendek, bukan untuk jangka panjang. “Itu seperti zero sum game, memindahkan masalah ke tempat lain tanpa menyelesaikan masalahnya,” kata Sonny. Oleh karena itu, ia menilai kota di luar Jawa lebih ideal sebagai Ibukota baru RI.
Tata Mutasya
Peraih master di bidang manajemen pembangunan dari Universitas Turin, Italia, ini mendukung pemindahan Ibukota sebagai cara meratakan pembangunan. Tata menyatakan, perlu ada dobrakan atas sentralisasi pembangunan di Jawa khususnya Jakarta yang sudah terjadi sejak era kolonial.
“Selama ini tidak ada rekayasa ulang atas peninggalan kolonial itu,” kata Tata dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis 29 Juli 2010.
M Jehansyah Siregar
Arsitek jebolan Institut Teknologi Bandung yang mendapat doktor di bidang perencanaan kota dari Universitas Tokyo ini mendukung pemindahan Ibukota. Namun, peneliti di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB ini menyatakan, memindahkan Ibukota diperlukan visi yang kuat yang disertai regulasi yang kuat setingkat Undang-Undang.
Indonesia perlu meniru model regulasi yang diterapkan oleh Malaysia untuk membangun Putrajaya. Jika regulasi setingkat Undang-undang di Indonesia telah siap maka secara simultan langsung dibuat badan yang berkompeten untuk membangun Ibukota baru guna menghindari berbagai konflik dan spekulan.
Menurut Jehan, tidak perlu membuka lahan baru untuk membangun Ibukota baru, melainkan cukup dengan melanjutkan pembangunan kota yang telah ada. Berdasarkan berbagai kajian yang telah ada, Kalimantan pulau yang telah siap secara infrastruktur dan secara geografis Kalimantan jauh dari pusat gempa dan gunung berapi.
Kebijakan pemindahan Ibukota harus segera dilaksanakan agar Indonesia tidak tertinggal dari negara lain. Menurut Jehansyah saat ini Indonesia telah tertinggal dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. Bahkan Ia memprediksi, Myanmar akan segera menyalip posisi Indonesia karena negeri itu telah lebih dahulu memindahkan Ibukota negara pada 2005 lalu.
“Mungkin nanti saat kita memulai pemindahan Ibukota, Myanmar telah maju. Semoga saja kita tidak tersalip Timor Leste,” ujarnya lalu tertawa.
kota Merdeka,yg direncanakan akan mnggantikan posisi Jakarta sbagai Ibukota.Jumat, 04 Desember 2009
SBY tengah memikirkan lokasi baru pusat pemerintahan. Kalau seperti Malaysia itu tanggung dan tidak sepenuh hati. Cuma 40 km. Sehingga sebagian tidak pindah rumah dan akhirnya jadi jauh dan macet.
Harusnya seperti Brazil yang memindahkan ibukotanya begitu jauh dari Rio de Janeiro ke Brasilia, atau Amerika Serikat dari New York ke Washington DC, Jepang dari Kyoto ke Tokyo, Australia dari Sidney ke Canberra, Jerman dari Bonn ke Berlin.
Karena jauh akhirnya pada pindah rumah. Kalau dekat, misalnya di Jonggol atau Sentul, niscaya orang Tangerang, Bogor, Jakarta, Bekasi, Depok tetap tinggal di rumahnya dan berkantor di ibukota baru. Jalan jauh dan kemacetan pun terus berlangsung.
Jumlah penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diperkirakan sekitar 23 juta jiwa. Padahal tahun 1986 jumlahnya hanya sekitar 14,6 juta jiwa (MS Encarta). Jika Jakarta terus dibiarkan jadi ibukota, maka jumlah ini akan terus membengkak dan membengkak. Akibatnya kemacetan semakin merajalela. Jumlah kendaraan bertambah. Asap kendaraan dan polusi meningkat sehingga udara Jakarta sudah tidak layak hirup lagi. Pohon-pohon, lapangan rumput, dan tanah serapan akan semakin berkurang diganti oleh aspal dan lantai beton perumahan, gedung perkantoran dan pabrik. Sebagai contoh berbagai hutan kota atau tanah lapang di kawasan Senayan, Kelapa Gading, Pulomas, dan sebagainya saat ini sudah menghilang diganti dengan Mall, gedung perkantoran dan perumahan.
Hal-hal di atas akan mengakibatkan:
1. Jakarta akan jadi kota yang sangat macet
2. Dengan banyaknya orang bekerja di Jakarta padahal rumah mereka ada di pinggiran Jabotabek, akan mengakibatkan pemborosan BBM. Paling tidak ada sekitar 6,5 milyar liter BBM dengan nilai sekitar Rp 30 trilyun yang dihabiskan oleh 2 juta pelaju ke Jakarta setiap tahun.
3. Dengan kemacetan dan jauhnya jarak perjalanan, orang menghabiskan waktu 3 hingga 5 jam per hari hanya untuk perjalanan kerja.
4. Stress meningkat akibat kemacetan di jalan.
5. Penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) juga meningkat karena orang berada lama di jalan dan menghisap asap knalpot kendaraan
6. Banjir dan kekeringan akan semakin meningkat karena daerah resapan air terus berkurang.
7. Jumlah penduduk Indonesia akan terpusat di wilayah Jabodetabek. Saat ini saja sekitar 30 juta dari 200 juta penduduk Indonesia menempati area 1500 km2 di Jabodetabek. Atau 15% penduduk menempati kurang dari 1% wilayah Indonesia.
8. Pembangunan akan semakin tidak merata karena kegiatan pemerintahan, bisnis, seni, budaya, industri semua terpusat di Jakarta dan sekitarnya.
9. Tingkat Kejahatan/Kriminalitas akan meningkat karena luas wilayah tidak mampu menampung penduduk yang terlampau padat.
10. Timbul bahaya kelaparan karena over populasi dan sawah berubah jadi rumah, kantor, dan pabrik. Saat ini pulau Jawa yang merupakan pulau terpadat di dunia 7 x lipat lebih padat daripada RRC. Kepadatan penduduk di Jawa 1.007 orang/km2 sementara di RRC hanya 138 orang/km2. Tak heran di pulau Jawa banyak orang yang kelaparan dan makan nasi aking.
see?I told you...
oke,mari kita liat Ilustrasi yg sudah tergambar dgn wacana diatas

Jln.R.E Martadinata yg amblas spanjang 103 meter.Apakah akan ada Jln.R.E Martadinata yg lain?yg mnghebohkan dunia dgn amblasnya sbuah Jalan d sbuah Kota Terkaya di Dunia.(gw bukannya mmbangun kpercayaan dirian nasionalis,tpi INI KNYATAAN!!that's true)

lihat?Apakah hati kalian gak terketuk melihat foto trsebut?
jangan tengok smartphone mu,jangan tengok barang" mewah yg selama ini memanjakan mu.mreka smua yg mnanggung sgala ksedihan dan kesusahanmu selama ini.Ini adalah contoh kota Jakarta yg tenggelam oleh banjir.

Apaan neh?bundaran HI?yg ada EX sma PI?tempat" elit yg dikelilingi gedung" kedutaan besar?apa kata dunia??

hahahaha,kbayang ga kalo jakarta jadinya kaya gini?
kita sbagai pemuda,calon penerus,prnah trpikir gak kalo kalian akan mnyumbang buah pikiran dahsyat buat kmajuan negara?
apa yg kalian berikan bwt negara ini?
apa yg kalian sumbangkan untuk bangsa ini?
bukan dengan tombol qwerty smartphone mu itu
bukan dengan canda tawa shooping ke mall
pikirkanlah,teman.tubuh itu bagaikan rumah,apabila sudah rusak,kita harus sgera mninggalkannya....
























