wokeh,dari pada lo" pada stres mikirin nasib Indonesia yang kalah telak 3-0 atas Malaysia (sumpah,dah.gw jadi males nontonnya lagi.Masa dri menang 5-1 jadi kalah 3-0?telak bgt kan?)
Yang bikin gw senewen lagi,pas pertandingan berlangsung,para pemain Timnas kita ini dikasi laser mukanya,bikin pecah konsentarsi.Hingga operan-operan pemain timnas dapat dipatahkan dengan mudah oleh si MALINGSIA itu. (ih,jd emosi gua!)
gak sportif bgt gitu,loh.Malah,sempet jadi bersitegang gitu,pas GK kita Markus Haris Maulana gamau ngelanjutin pertandingan,padahal Malaysia udah siap" mau tendangan bebas.
gara" suporternya kekanak-kanakan gitu.
Malah ada tuh pemain yang dilempar pake petasan.busett...!
GW KALO JADI ORANG MALAYSIA MALU LOH.MALUU....!!!!
menang dengan cara tidak terpuji.cuih,tai kucing lu smua.kentut!!!
(asmanya langsung kambuh,dendam ksumat yg tak berujung)
udh negara gatau diuntung!bawa teroris mulu,ngambil kekayaan negara,main curang,ga heran orang malaysia umurnya pendek smua (loh?nyambung gitu loh?)
oke,but never mind,masih ada leg kedua!!!
KESEMPATAN EMAS SODARA"!second change...
kalo disana suporter Malaysia mainnya pake laser sma petasan,tanggal 29 Des nanti,suporter Indonesia bawa TABUNG GAS ELPIJI 3 KG skalian.Kalo perlu sediain granat
(itu mau nonton bola,apa perang sodara?)
sperti pmbukaan yg gw tulis diatas,dri pda stres mikirin nasib timnas,mending baca cerpen gua! (loh?)
hehe,iya.pas gw nonton bola tadi,gw jadi terinspirasi bikin cerpen baru lagi.
yah,karena masih pemanasan krna udah lama gw ga nulis sma gambar lagi,gara" waktu gw kesita sma berbagai kegiatan di sekolah.
cerpen ini nyeritain mental pemain sepak bola yang berjuang buat negaranya.
dan juga buat orang-orang terdekatnya,yang selalu mengharapkan kemenangan darinya.Tapi,tentu saja kemenangan itu ga smudah membalikan telapak tangan.
sharusnya,sbagai suporter kita hanya menyemangati dan berdoa yg terbaik buat negara...hem,hem.
jadi,ini dia cerpennya...
ANTARA BOLA,CINTA,DAN HARAPAN
(judulnya masih asal-asalan aja,ya.orang baru kepikir tadi ide-nya)
Tak banyak pemuda yang bernasib mujur sepertiku.Entahlah,apakah faktor keberuntungan atau apa.Namaku Dion,berusia 15 tahun.Adalah salah satu anggota tim U - 16.Dan juga menjadi striker yang sangat diandalkan.
Dahulu,hidupku sangat prihatin.Namun,ketika Pak Glen menemukanku.Sedikit demi sedikit Aku berhasil membantu Ayahku.Pak Glen adalah Pelatih Kebangganku.
Beliau sangat baik dan memperhatikanku.Sebaliknya,Ayahku.Salah satu korban penipuan yang kala itu marak dimana-mana.Ayahku sempat melarangku untuk bermain bola.Karena,baginya bermain bola adalah hal yang membuang-buang waktu.Ia lebih bangga apabila Aku lulus dan kuliah Kedokteran,seperti Impiannya.
Namun,selangkah demi selangkah.Ia mulai membiasakan diri dengan hobiku itu.
Apalagi,ketika Pak Glen berhasil menemukanku,dan membantu pendidikanku.Ayah mulai peduli akan hal itu.
Mengapa?Kemarilah untuk Kuceritakan pada Kalian...
Saat itu,ketika Aku masih berusia 6 tahun.Saat kondisi keluarga Kami terpuruk.
Rekening Ayahku terkuras habis,untuk menutupi modal bisnis.
Ibuku yang sempat frustasi,pergi meninggalkan Aku dan Ayahku yang saat itu sedang kalut.
Hingga kini,Aku belum pernah berjumpa dengannya.
Aku sedemikian kecil dan polos untuk mengetahui apa yang telah terjadi.
Yang kutahu,hanyalah Ayahku yang gusar,Ibuku yang berteriak dan meninggalkan rumah sambil
membawa koper-koper besar.
Aku memandang semua itu di sebuah gudang,sambil memeluk Bola.
Dia hanya sibuk mondar-mandir memikirkan pekerjaannya.Aku,yang kala itu masih senang bermain.Terpaksa mengorbankan masa kecilnya untuk bekerja.
Kadang,Aku bekerja dirumah tetangga-tetanggaku.Membantu seadanya.
Aku 'tak punya waktu untuk bermain dan bergaul dengan anak-anak sebayaku.
Aku menjadi sedemikian kuper,tetapi ada satu Sahabat yang selalu mengerti diriku.
Dia itu sebuah BOLA.Hanya dengan bola Aku dapat melupakan kesedihanku.
Aku melewati masa kecilku yang kelam itu dengan sebuah bola kesayanganku.
Pada suatu hari,segerombolan Anak yang terkenal nakal dikomplekku mengepungku.
"Tidak!"kataku,mencoba memberanikan diri."Ibuku bilang,semua orang diciptakan pasti ada gunanya!"
"Tahu apa Kau soal Ibu?"celetuk Anak yang paling besar,yang sepertinya adalah Pemimpin geng berandal itu."Kau 'tak punya Ibu!"
"Aku punya Ibu!"balasku,melawan."Ibuku sangat sayang padaku!"
"Kalau Ibumu menyayangimu,buat apa dia meninggalkanmu dan Ayahmu?ha?"Mereka tertawa,melihatku kehabisan kata-kata.
Kemudian,Mereka mendorong tubuhku,dan merebut bola yang ada dipelukanku.
Aku hanya bisa menangis dan berdoa.Ya,Mereka benar.Ibu membenciku.
Setelah mereka pergi,Aku beringsut ke 'bangkai' bola-ku yang hanya berupa abu.
Aku sangat heran pada Ayahku,Ibuku,dan Diriku sendiri.
Terkungkung dalam zona 'tak berdaya.Merasa 'tak dicintai,dan dibutuhkan.
Bahkan,ketika Sahabatku pergi.Ayahku 'tak bergerak.'tak berbicara sepatah kata pun padaku.
Hanya terdiam dan membisu.Terpenjara dalam siluet kemiskinan membuatnya 'tak bisa apa-apa.
Namun,semuanya berubah ketika Aku bertemu Pak Glen.
***
Aku,berusia 11 tahun.Duduk di bangku SMP membuatku lebih baik.Aku mempunyai seorang Sahabat baru.Bentuknya sama,dan 'tak berubah dari dulu.Bola.
Aku menemukannya kala menjual barang-barang bekasku di Pemulung.Pemulung itu bilang,bahwa Aku dapat memilikinya.Aku dengan bahagia menerimanya.
Permainan sepak bola-ku membaik di SMP.Aku menemui beberapa teman yang mengerti perasaanku.Mereka membuatku dapat bermain dengan bebas.Joselin dan Raffi.
Hingga pada suatu hari,saat Aku sedang bermain bola disebuah lapangan,dekat rumah temanku,Joselin.
Seorang Bapak,sebaya dengan Ayahku --kukira begitu--,duduk diam memperhatikanku.
Disisinya berdiri temanku,si Joselin itu.
Terus memperhatikanku,sesekali Beliau berbicara dengan Joselin.Kukira Beliau adalah Ayah Joselin,tetapi 'tak mungkin karena Aku sudah mengenal Ayahnya.
Setelah permainan usai,Joselin mendekatiku
"Dion,kemari.Pamanku ingin bicara"katanya.
oh,jadi Beliau Pamannya.
Dengan heran,Aku mengikutinya.Dengan gelora semangat karena timku memperoleh kemenangan saat permainan tadi.
"Sore,Nak."Kata Paman Joselin."Nama saya,Glen.Panggil saja Om Glen."
Aku menjabat tangannya sambil menyebutkan namaku,"Dion,Om."
"Tahukah Kamu,bahwa tadi Kamu sudah menciptakan gol yang sangat indah sekali?"
tanya Beliau.
Aku memiringkan kepala,'tak mengerti.
"Ah,begini.Saya adalah Asisten Pelatih Timnas U -12.Apakah Dion bersekolah di SSB?"
*Sekolah Sepak Bola
"Ah,tidak,Pak."jawabku.
"Kalau begitu,bagaimana Kamu bisa menciptakan gol diluar kotak pinalti seperti tadi?Tak mungkin 'kan kamu tidak belajar?"Om-om itu terus mencercaku dengan pertanyaan.
"Saya belajar otodidak,Om"
Beliau berdecak kagum.Kemudian,sesaat kemudian Ia menyerahkan kartu namanya.
"Temui saya di Alamat ini,tanggal segini"katanya."Kamu saya undang untuk mengikuti seleksi timnas."
Aku mengangguk bersemangat.Mungkinkah ini mimpi?Kutampar-tampar pipiku.Perih.
Tidak,ini NYATA!itu gambaran perasaanku saat itu.
Sesampainya di rumah,kusampaikan kabar baik itu pada Ayah.Kukira,Ayah akan sangat mendukungku.Ternyata...
"Tidak!Ayah tidak setuju!"serunya diluar dugaan."Ayah tidak suka kamu main bola.tidak punya masa depan cerah!"
Aku hanya diam,terpaku.
"Ayah hanya ingin kamu lulus SMA dan kuliah di Kedokteran.Itu Impian Ayah!"
"Tapi,Yah.Ini kesempatan emas.Jarang ada kesempatan seperti ini!!"
Aku mulai emosi.Sudah lama Aku menyimpan dendam,menentang semua pendidikan yang diterapkannya.Menolak jalan pikirannya,dan perintah-perintahnya yang 'tak sesuai dengan hatiku.
Kami tidak pernah sehati.Keras kepala.Itu kata yang tepat untuk Kami berdua.
Ayah menggebrak meja."Semua Ayah lakukan demi kebaikan kamu,Dion!"ujarnya."Semenjak Ibu meninggalkan kita.Ayah berjuang hanya untuk kamu!"
Aku terhenyak,itulah saat ketika nama 'Ibu' diucapkan kembali.
Sepeninggal Ibu 5 tahun yang lalu telah meninggalkan luka yang membekas dihati Ayah.
"Ayah Jahat!!!!"teriakku sekuatnya.
Ayah termangu,memandang keluar jendela.Hening.
"Maafkan Ayah,Nak."katanya kemudian,setelah beberapa saat.Mendekatiku yang diam.
"Ayah ingin memberikan yang terbaik untuk Kamu.Hanya untuk Kamu,Dion."
Aku mengangguk berat.
kisah cerita berakhir satu babak.
***
Aku sudah teguh pada pendirianku.Aku harus mengikuti seleksi itu!
Dibantu Joselin dan Raffi,Aku berhasi mengikutinya.
Tahap demi tahap Aku lewati.Hingga akhirnya,keputusan final.Pak Glen mendekatiku pagi itu disekolah,menyerahkan amplop yang dicap khusus dari PSSI.
"hasil keputusannya."
Aku menerima sambil berdoa.
"ehm,Dion.Apa pun hasil keputusannya,kamu harus terus berjuang ya.Oke?"
wah,apa Aku gagal?Jantungku berdegup kencang.
Kurobek segelnya,dan kubuka kertas.Disitu tertera bahwa,Aku lulus seleksi.
Aku tak tahu apa perasaanku saat itu.Yang pasti,Aku sangat bahagia.
Namun,sesaat kemudian.Aku teringat akan Ayahku.
Ayah belum mengetahui hal ini,dia 'tak mengijinkanku bermain bola selamanya.
"Pak Glen,"kataku pelan pada Pak Glen.
"Ya,Nak?"tanyanya,penuh perhatian."Ada apa?"
"yah,saya lulus."Aku mencoba tersenyum.Apakah orang ini dapat kuandalkan untuk membantuku menghadapi Ayah?
"kemudian?"
"Boleh saya minta bantuan?"
Pak Glen tersenyum,"selama saya bisa Anak Muda."
"Ayah..Ayah saya tidak mengetahui hal ini." kataku,terbata-bata.
"Lalu?beritahu dia.Dia pasti sangat senang."
"Tidak,ini berbeda."elakku."Dia melarangku untuk tidak bermain bola selamanya."
Pak Glen pun mengerti,dan nampak prihatin.Beliau mengajakku duduk disisinya.
"Banyak Orang Tua yang tidak mengerti keinginan Anaknya,Dion."katanya."Ayahmu salah satu diantaranya."
Aku mengangguk.
"Tetapi,Kita dilahirkan untuk memilih keinginan Kita.Hidup itu ada untuk dipilih,Dion.Kamu memiliki bakat.Itu-lah mengapa saya memilihmu.Tunjukan pada Ayahmu,pasti dia mengerti.
Bahwa diantara ribuan bintang,hanya ada satu bintang yang sinarnya paling terang."
Aku bagai tersihir dengan kata-kata itu.
"Orang Tua selalu menginginkan yang terbaik bagi Anaknya."
"Apakah Bapak mau membantu Saya berbicara pada Ayah?"Aku memandangnya penuh harap.
Pak Glen tersenyum,"kapan pun Aku diperlukan,Aku akan membantu."
Senyumku melebar.
***
Seperti dugaanku,Ayah bingung menghadapi Pak Glen.Ayah baru pulang bekerja ketika menemui Pak Glen diruang tamu.
"Jadi,maksud Bapak.Anak saya terpilih menjadi pemain timnas?!"seru Ayahku,tak percaya.
"Jika itu maksud Bapak.Ya."jawab Pak Glen,tetap tenang.
"Tidak mungkin.Dion!"Ayah memandang kearahku yang mengkerut disisinya.
Aku balas memandangnya,selama 5 tahun terakhir.Aku selalu saja ditindas oleh pola pendidikannya yang secara pantas diterapkan untuk anggota militer.
Hey,Aku ini Manusia.Seperti kata Pak Glen,Aku punya pilihan.
"Anak Bapak memilik bakat,Saya yang menemukannya."Pak Glen tetap melanjutkan,sambil mengedip matanya ke arahku,mungkin ini artinya "tenanglah,Nak."
"Saya tidak setuju."Ayahku mengambil keputusan.Kemudian berpaling kepadaku."Inikah balasanmu padaku?Setelah selama ini Aku memberikanmu Makanan setiap hari,Memberimu pendidikan yang terbaik,Memberikanmu rumah yang nyaman.Inikah balasanmu?!"
"Ayah bisa memberikan dunia padaku!Tapi Ayah 'tak bisa memberiku kepercayaan!!"
Ayah terperangah menatapku.Kemudian berdiri dan melempar pandang keluar jendela,sambil menarik napas berat.Itulah kebiasaannya ketika sedang marah atau bimbang.
Aku tetap diam ditempat,menunggu suaranya.Pak Glen menatapku,berdoa.
"Baiklah,"katanya setelah sekian lama."Kau boleh mengikuti timnas itu."
Mataku membulat 'tak percaya.Pak Glen tersenyum,kemudian menjabat tangan Ayahku bersemangat,"terima kasih,Pak.Anak Bapak akan segera menjadi kebanggaan bangsa!"
Ayah hanya diam,'tak berkomentar.Aku tahu,inilah keputusannya yang terberat,setelah Ibuku meninggalkannya...
***
Ayahku,adalah sosok pendiam.'Tak banyak komentar,tetapi banyak bekerja.
Semenjak peristiwa penipuan itu,Ia tidak pernah mempercayai orang lain sperti dulu.
Ia menjadi sangat sensitive,teliti,dan hati-hati.Ia 'tak pernah meluangkan waktunya untuk berbicara denganku.Di kala pagi,Aku hanya menemukan sarapan di meja makan yang sudah dibuatnya sebelum bekerja.Dan dia baru pulang ketika Aku tertidur.
Meski berat mengakuinya,kami miskin komunikasi.
Walau begitu,Aku percaya bahwa Ia selalu menginginkan yang terbaik untukku.Ia sangat sayang padaku.
Seperginya Pak Glen,Ayah 'tak memandangku sama sekali.Beliau langsung masuk keruang kerjanya,seperti 'tak ada apa-apa.
****
"Dion!"
Dion menoleh,Pak Glen bergerak mendekatinya,"Kamu harus menjaga pemain bernomor punggung 18 itu.Gocekannya oke!"
Dion mengangguk,kemudian dia berlari mengikuti perintah.
Babak Penyisihan ASEAN YOUTH CUP.
Dion Raditya Angkasaputra.Berusia 15 tahun,salah satu striker terbaik timnas U -16 Indonesia.
Pertandingan usai,dan berhasil dimenangkan oleh Tim Garuda.
"Cool,Dion!"puji Fahri,temannya sang Kapten yang selalu dijadikan partner Dion.
"Kau juga,"balas Dion.
Suasana diruang ganti tersebut demikian riang,kemudian Pak Glen,selaku Pelatih memasuki ruangan,"kerja kalian bagus sekali anak-anak!"serunya,"bravo!"
"setelah ini,kita harus menghadapi timnas dari Thailand.Kita akan menemuinya akhir minggu ini.
Ok?siapkan mental dan fisik kalian."
.
"OK!!!"jawab semuanya,bagai koor.Kemudian disambut gelak tawa.
Sesaat kemudian,muncullah sesosok anak perempuan,menyembul dari balik pintu ruang ganti.
Rambutnya panjang ikal,matanya cokelat,tubuhnya ceking dan tinggi,"Ayah?"
"Amanda?"Pak Glen menoleh."Ngapain kau?"
"Apakah sudah selesai semuanya?Aku ingin pulang."katanya.
"Sebentar lagi,sayang.Sebentar lagi."balas Ayahnya,sabar.
Namanya Amanda,usianya sebaya dengan Dion.Putri tunggal Pak Glen.Kadang,suka ikut menemani Ayahnya melatih timnas.Akrab dengan semua pemain timnas.
"Hai."sapa Amanda.
"Hai,"balas Dion,sambil menggosok-gosokan handuk dikepalanya."Gak masuk?"
"Enggaklah!"jawab Amanda sambil tertawa renyah."Aku kan perempuan.Yang lain laki-laki."
"Oh,iya.hehehe"Dion tersenyum."Tunggu sebentar lagi,ya.Ayahmu masih bersemangat tuh."
Kemudian melangkah menuju pelataran.
'Tak diduga,Amanda menjejeri langkahnya."Main mu bagus."pujinya.
"Oh,terima kasih."
"Dion,"panggilnya.
"Hem?"
"Ayahmu pasti bangga sekali padamu."
Mau tak mau,Dion tersenyum."Mungkin,Kuharap begitu."
Dalam hati,Dion mengakui.Bahwa hubungannya dengan Pak Glen layaknya Bapak dan Anak.
Pak Glen seperti menganak-emaskan Dion.
Apalagi Amanda yang berstatus sepupu Joselin.Dion sedemikian dekat dengan keluarga itu.
Beberapa saat kemudian,Dion melihat mobil Ayahnya meluncur mendekati dirinya.Dion pun berpamitan dengan Amanda,kemudian menaiki mobil Ayah.
"Yah,tim kami menang."
Sebagai balasan,Dion mendengar deheman.Entah itu kebanggaan,atau melecehkan.
"Tadi,Dion nyetak gol."Dion membuka pembicaraan.
Kembali deheman.
"Yah."
Ayah tetap bersikukuh untuk diam.Ia tetap seperti dulu,diam,kaku,monoton.
"Kenapa Ayah gak pernah mau menonton Dion?"
Kali ini terdengar jawaban.
"Untuk apa?"
"Ayah gak bangga dengan Dion?"
"Ayah akan bangga kalau kamu jadi dokter."
Yah,masih sama seperti dulu.
***
Babak penyisihan,semi final,hingga akhirnya FINAL!
Tak diduga timnas memasuki babak final.Tak diduga sama sekali.
Final kali ini akan diadakan di Singapure.Timnas akan bertanding melawan Malaysia (huehehe.saatnya memutar balikan fakta.NAMANYA JUGA CERITA!)
Rombongan akan berangkat tiga lagi.
Dion bergerak mendekati Ayahnya.
"Yah,"
kembali deheman.
"Dion akan berangkat ke Singapure tiga hari lagi."
Ayah menatap putra tunggalnya,mengalihkan pandangan dari surat kabar yang sedang dibacanya.
"Apa?"
"Apa Ayah tidak menonton televisi?"Dion hampir menyerah."Lihat hotline di koran yang sedang Ayah baca."
Dion mengambil paksa surat kabar dari tangan Ayahnya.Kemudian membolak-baliknya dengan 'tak sabar."Lihat!"serunya."Lihat!!"
Ayahnya menunduk dan membaca:
TIM MERAH PUTIH AKAN TUNDUKKAN HARIMAU MALAYSIA.
Ayah mengangguk mengerti.
"Apa Ayah tidak ikut?"tanya Dion,memastikan."Pak Glen dapat menyediakan tempat..."
"Buat apa?!"Ayah melempar korannya.Menatap lurus-lurus putranya.
"Apa Ayah tidak turut menyemangati Anaknya?Ini final,Yah.FINAL!"seru Dion."Adalah suatu kehormatan bisa bertanding hingga final."
Ayah hendak membuka mulutnya,namun dengan segera dipotong Dion yang dengan cepat mengetahui arah pembicaraan Ayahnya.
"Ayah adalah satu-satunya keluargaku.Aku tahu Ayah menginginkan yang terbaik untukku.
Tapi,belajar untuk menjadi dokter bukan keinginanku,Yah.Aku ingin bermain bola.Bola adalah Impianku.Bola adalah segala-galanya bagiku.
"Apakah Ayah ingin putranya menderita karena faktor biologis pelajaran kedokteran?Aku tidak suka kedokteran,Yah.Aku gak berminat sama sekali!
"Ayah kira Aku bahagia dengan keadaan seperti ini?Enggak sama sekali!"
Ayah untuk pertama kalinya,tersenyum pada Dion.
Senyum yang sangat indah sekali.Tetapi kemudian,Ia meninggalkan Dion sendiri.
15 tahun Dion menjadi anaknya,tak pernah sekali pun Ia mengetahui jalan pikiran Ayahnya itu.
***
"Hei,Dion!"terdengar suara yang akrab di telinga.Joselin dan Raffi.
"Hai,"
"Sombong kau,mentang-mentang mau berangkat ke Singapure hari Jumat nanti."goda Raffi.
"Hehe,Raf.Aku kesana kan bukan buat liburan."
"Terus berjuang,ya!"kata Joselin menyemangati."Kita-kita disini juga bakal doain kamu,kok!"
"Gasak si Harimau 10-0,Yon!"seru Raffi bersemangat.
"Iya,kalo perlu 90-0!!"celetuk Joselin,tak mau kalah.
"Ye,itu mah tiap menit nge-golin.Kamu kira Aku ini Dewa?"balas Dion,tertawa.
Padahal,jauh dilubuk hatinya,Ia tertekan juga.Disini,teman-temannya hanya bisa mendukungnya dan merequest skor gol yang akan diperolehnya.Padahal,tidak semudah itu.
Semua pasti ada prosesnya.Semenjak Indonesia mengalahkan tim-tim Asean yang lainnya dengan skor telak,Para Suporternya kia merajalela,dengan keinginan jumlah skor-skor yang cukup wauw.
Misalnya saja tadi pagi,temannya sudah bilang,"Yon,gol-in 10-0 ya!"
Bagaimana pun juga,Dion hanya manusia biasa,bukan stengah Dewa!
Inilah saat-saat mental Dion diuji.
***
"Ayahmu sudah mengizinkan.Tapi,Dia sndiri 'tak mau ikut?"tanya Pak Glen.
Sore itu,Dion menyempatkan diri bertandang ke rumah Pelatihnya itu.Sekedar meluangkan waktu.
"Begitulah,Pak."
Dihadapannya,Amanda hanya memandang prihatin.
Pak Glen hanya tinggal berdua dengan putrinya itu.Istrina telah lama tiada ketika Amanda masih kecil.Selebihnya,adalah pembantu dan supir pribadi yang tinggal dirumahnya.
"Untuk saat ini kamu sabar sajalah."kata Pak Glen,menguatkan hati."Ayahmu perlu waktu."
"Saya mengerti,Pak."
***
"Belum latihan juga,Dion?"sapa Amanda.
"Belum.Anak-anak masih banyak yang belum ngumpul."
Pagi yang cerah itu,Rumput-rumput masih berembun.Suasana di camp karantina itu masih sepi.
Hanya ada beberapa anak saja yang berlari-lari kecil.
"Ayahku masih di ruang makan,bersama ketua PSSI."
"Oh."
Amanda tersenyum,"bagaimana dengan Ayahmu?"
"Sepertinya ia tak peduli padaku.Saat Aku pamit dikarantina disini.Beliau hanya diam saja,sambil mengangguk."
"Tunjukan pada Ayahmu,bahwa kau bisa,Yon."
"Tentu."Dion pun menyandarkan punggungnya dibangku.Nyaman sekali."Omong-omong,apa Kau ikut ke Singapure besok pagi?"
Besok,rombongan tim akan berangkat menuju Singapure pagi-pagi.
Maka hari ini,memang dijadwalkan mereka akan berlatih untuk yang terakhir kalinya.
"Entahlah,"Amanda menjawab dengan nada 'tak yakin.
"Loh?kenapa?"tanya Dion heran.
"Aku..Aku..gak bisa."
"Kenapa?Ayahmu kan ikut."
"Aku mesti ke Rumah Sakit,Yon."jawab Amanda.
"Ke Rumah Sakit?Ngapain?Siapa yang sakit?"
Dion meluncurkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Aku."
"Kamu?"Dion mengernyitkan dahi,kemudian melempar pandang menilai.Dari ujung ubun-ubun Amanda hingga ujung kaki.Kelihatan segar bugar.Tak ada tampak lemah sekalipun.
Walaupun harus Dion akui,Amanda bertubuh ceking.Namun,selama ini Dion mengira Amanda bertubuh ceking karena Ia tinggi.
"Aku sakit,Yon."suara Amanda bergetar.
"Sakit apa?Kamu jangan bohong.Kamu kelihatan sehat-sehat aja."
"physically yes."
"Sakit apa?"Dion baru sadar,bahwa selama ini Ia berteman dengan Amanda hanya sebatas say hi saja.Ternyata,Aku bukan teman yang baik.
"Seriosis."Amanda melanjutkan."Kanker Hati."
Dion tercengang."Jadi?"
Amanda menatap Dion lurus-lurus."Mungkin umurku gak lama lagi,Yon."
"Ah,kamu bercanda kan?"tanya Dion,berusaha tertawa.
"Aku gak bercanda,Yon.Tanya saja Joselin,dia tahu semuanya.Ibuku juga meninggal karena penyakit ini.
"Sudah cukup lama Aku bertahan.Jalan satu-satunya cuma donor hati.Tapi,sampai saat ini,belum ada pendonor yang cocok untukku."
"Amanda,Aku..."Dion terbata,"Aku...Minta maaf."
Amanda tersenyum.Aneh,walaupun matanya berkaca-kaca,Ia sama sekali tidak menangis.
Barangkali,Ia sudah tegar.
"Hanya satu permintaanku,Yon."
"Apa itu?"tanya Dion.
"Tolong cetak gol,ya.Buat Indonesia menang.Buat Garuda melayang tinggi di Angkasa."
Lagi-lagi,tekanan batin.Tapi..untuk Sahabat yang mungkin umurnya tak panjang,Dion mengangguk,dan menjawab yakin,"Pasti."
***
Malam itu,Dion meminta izin secara khusus dari Pak Glen untuk mohon pamit kepada Ayahnya.
Sekalian meminta doa restu.
Dengan diantar supir pribadi Pak Glen,Dion sampai dirumahnya.
"Ayah..."Dion berkata lambat-lambat.
Ayah yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran,mendongakkan kepalanya.
"Dion..."
"Dion,kesini.Cuma mau memastikan,apa Ayah yakin gak mau ikut Dion?"
Ayah menghela nafas berat,kemudian menggelengkan kepala.
"Besok Dion sudah berangkat,Yah."
"Ayah gak peduli."
"Dion peduli."Dion menatap Ayahnya dalam-dalam."Dari awal sampai akhir perjuangan Dion.
Ayah gak pernah sekali pun memberikan dukungan kepada Dion,secara langsung maupun tak langsung."
"Ayah memang ga mendukung kamu!"
"Ayah!"seru Dion."Tolong mengerti,Yah.Ini adalah pilihan Dion.
Dulu,Ayah selalu memaksakan kemauan Ayah untuk Dion,dan Dion hormati itu.Bola adalah pilihan Dion,dan Ayah hormati itu.
"Bola selalu ada dikala Dion sedih,disaat kita melewati masa-masa sulit.Selalu ada Bola untuk Dion.Kemanakah Ayah selama ini?!"
Ayah membalikan tubuhnya,memunggungi Dion.
"Baiklah,"kata Dion akhirnya."Aku gak mau memaksa."
Dengan cepat,Dion meninggalkan rumahnya.
Ayah Dion masih terpaku ditempatnya.Meresapi semua kata-kata putranya.
Diseberang ruang tamu,terdengar suara televisi yang dibiarkan menyala.Siaran berita.
Suara Pembaca Berita pun terdengar hingga menyebrangi ruang tamu,memasuki telinga Ayah.
"Besok,para pemain timnas U -16 akan berangkat ke Singapure.Tentu saja kita menginginkan yang terbaik untuk Indonesia.Kita berharap striker andalan kita,Dion Angkasaputra dapat memberikan permainan indah seperti biasanya..."
Ayah membuka matanya,dan menemukan siluet kesadaran dihadapannya.
***
Bandara Halim Perdana Kusuma
pukul 08.00
Pesawat lepas landas dengan mulus,meninggalkan kota Jakarta.Membawa segerombolan timnas menuju Singapure.Termasuk Amanda.
"Gimana keadaanmu?"tanya Dion.Ia memilih duduk disisi putri Pelatihnya itu.
"Biasa saja."jawab Amanda.
"Akhirnya kamu ikut juga."
"Yah,sebenarnya Ayahku menginginkan pengobatanku diteruskan di Singapure."bisiknya."Tapi,Aku gak mau."
"Kenapa?"tanya Dion."Bukankah kamu ingin sembuh."
"Aku sudah capek,Dion."Amanda menyandarkan punggungnya."Bolak-balik ke RS.Berharap nyawaku jangan pergi,membuat susah Ayah."
"Setiap orang berhak untuk hidup."kata Dion."Kenapa tidak?"
"Tidak,bagiku."Amanda melanjutkan."Sudah takdir,Yon."
"Kamu pasti sembuh,pasti.Tenang saja,Aku mengenal Ayahmu.Dia Ayah yang baik,yang akan selalu mendukung Anaknya."
Amanda tertawa,"pasti Kau ingat Ayahmu ya?"
"Yah,"tak bisa dipungkiri bahwa wajah Dion merah padam."Begitulah."
"Pasti ada jalan lain keluar dari penderitaan."kata Amanda."Betul begitu."
Dion hanya terdiam,tak sanggup untuk menjawab.
***
Sesampainya di Singapure,anggota tim dipersilakan untuk makan siang dan beristirahat sejenak.
Mereka akan latihan sebentar sore nanti.
Di waktu senggang ini,Dion membuka e-mailnya.Banyak pesan di inbox.Setelah dibuka,kebanyakan dari teman-temannya yang mendoakan dan memberi dukungan.
Namun ada juga yang seperti Raffi,Edo,Sigit,dll.
Intinya mereka mengharapkan skor yang banyak.Dion pub berguling,berbaring telentang di ranjang kasurnya.Memejamkan mata.
Mereka pikir,bermain dan mencetak gol itu mudah?pikir Dion.Semua pertandingan kmarin hanyalah keberuntungan belaka.Apakah kali ini Dewi Fortuna akan menganugerahkan lagi padaku?Mereka semua berharap Indonesia menang dengan skor yang telak,ada yang minta 3-0,5-0,10-0.Tidakkah mereka sadar beban dari para pemain?
Dion terdiam,menenangkan diri.Berpikir betapa besar bebannya dan teman-temannya seperjuangan untuk keluar menjadi pemenang.
***
Sehari sebelum pertandingan tiba...
"Dion,makanlah yang banyak.Supaya besok kau punya banyak energi!"seru Ken,teman satu timnya sambil menuang sosis goreng banyak-banyak ke piringnya.
"Oh,terima kasih,Ken."
"Kenapa kau?kok lemas gitu?Sakit?"
celetukan Ken tersebut membuat Dokter Diko,Dokter yang menangangi kesehatan anggota tim mendekati meja Dion.
"Dion sakit?"tanya Dokter Diko,yang tanpa menunggu jawaban memeriksa suhu tubuh Dion.
"Saya..saya..gak apa-apa kok,Dok.Beneran deh.Saya cuma masih ngantuk saja!"
"Bener nih?"tanya Ken.
"Bener."
"Ya sudah,kalau begitu Dion boleh kembali ke kamar setelah sarapan.Tidur sebentar."perintah Dokter Diko.
"Oke,Dok."Dion pun melanjutkan makan.Kemudian memandang berkeliling.Mencari-cari sosok Amanda.Ayahnya,Pak Glen pun tak nampak.
"Tak ada latihan hari ini?"tanya Dion,ingin tahu.
"Tentu saja ada,"jawab Ken."Tapi baru diadakan pukul 3 nanti.Pak Glen keluar sebentar barusan.Untuk keperluan pribadi katanya."
"Bersama Amanda?"
"Anaknya?Iya,tuh dia baru saja keluar tadi."
Secepat kilat,Dion meninggalkan mejanya,kemudian berlari kearah lobby hotel.Iya melihat Amanda berdiri disisi Ayahnya.Tampak lemah dan tak bertenaga.
"Pak Glen?Amanda?"panggil Dion.
"Dion?"Pak Glen menoleh."Bukankah seharusnya kamu Sarapan?"
"Sudah kok,Pak."jawab Dion berbohong."Hendak kemana?"
"Ke..."Pak Glen melirik putrinya,meminta persetujuan.
Amanda mengangguk,"Aku sudah menganggap Dion sebagai saudara sendiri.Ia sudah tahu."
"Ke RS."
Dion pun langsung mengerti."Boleh saya ikut,Pak?"
Pak Glen hanya diam,menampakan ekspresi yang hampir sama dengan Ayah,"tentu saja."
Sebuah mobil hitam meluncur tepat didepan mereka bertiga.
"Silakan,"kata supirnya dari dalam.
Mobil pun meluncur meninggalkan lobby hotel/
***
di Rumah Sakit
Amanda diperiksa begitu sampai di Ruang Perawatan.di-biopsi istilahnya.
Selebihnya,Dion menunggu di ruang tunggu.Ia tidak ingin menganggu anak beranak itu.
Pak Glen sedang berbicara serius dengan Dokternya.Menunggu hasil pemeriksaan Amanda keluar.
"Sudah selesai?"tanya Dion.Begitu melihat sosok Amanda keluar dari Ruang Pemeriksaan.
Amanda mengangguk mengiyakan.Kemudian duduk berdampingan dengan Dion.
"Aku takut,Dion."kata Amanda,lirih.
Dion menatapnya,"Aku juga."
"Maksudmu?"
"Aku takut menghadapi Malaysia malam ini."
"Bukankah?Biasanya kamu yang paling bersemangat diantara anggota tim?"tanya Amanda,heran.
"Aku hanya manusia biasa,Amanda.Aku bukan setengah Dewa."Dion menjelaskan.Ia pun memutuskan untuk menceritakan tekanan-tekanan yang datang menerpa batinnya.
Ia kira,Amanda adalah orang cocok untuk dimintai pendapat.Apabila Ia menceritakannya kepada pemain lain,itu akan membuat rekan satu timnya makin tdak percaya diri.
"Banyak orang yang mengharapkan kakiku melahirkan gol-gol yang indah,yang mengantarkan Indonesia menjadi juara.Tapi,Aku takut..."
Dion menundukan kepalanya,detik ini,Ia merasa bahwa dirinya pecundang.
"Semua orang berharap banyak dariku,bahkan Ayahku yang diam.Aku berharap bisa membuatnya bangga dengan memenangkan Indonesia. "
Amanda menepuk bahu Dion,tersenyum."Banyak ketakutan didunia ini."katanya,bijak."Ketakutan adalah musuh manusia yang sebenarnya."
Dion mendongak,"kau benar."
"Lebih baik,kita berdoa saja.untuk malam ini,besok,dan selamanya..."ajak Amanda.
Dion mengangguk.
Kemudian mereka berdua saling menundukan kepala.
***
Garuda,di dadaku.Garuda kebanggaanku.Kuyakin,hari ini pasti menang..
Kobarkan semangatmuu,tunjukan sportifitasmu.Kuyakin hari ini pasti menang....
reff lagu Garuda di Dadaku yang dimainkan oleh band Rock Indonesia,dinyanyikan dengan penuh semangat diluar sana.
Dion menunduk di ruang tunggu.Seluruh temannya melakukan hal yang sama.
Ini berbeda,Ini FINAL!Semua orang pasti berdoa untuk kita,semua orang pasti mengharapkan untuk kita.Apa yang akan kita bawa setalah pulang ke Tanah Air nanti?
"Teman-teman..."Dion meminta perhatian teman-temannya."Aku tahu,saat ini kalian pasti merasa takut,dan gugup."
"Ya!"sahut Ken."Betul sekali."
Beberapa temannya mengiyakan hal yang sama.
"Ini FINAL.Indonesia berharap penuh pada kita.Berharap kita pasti menang,"kata Dion.
"Saya tahu kalian pasti memiliki beban mental yang sangat berat seperti hal-nya saya."
Teman-temannya mendengarkan dengan perhatian.
"Jadi,bagi saya.Apa pun hasilnya nanti,kita nikmati saja permainan mereka.Tak usah pikirkan bahwa ini pertandingan final.Anggap saja pertandingan ini diadakan di tanah air kita.Ketika kita akan bermain dengan teman-teman sepermainan di lapangan dekat rumah,dengan memakai bola plastik,dan tidak beralas kaki.
"Nikmati saja permainannya."
Semua anak tersenyum,merasa lebih baik.
Amanda yang melihat itu hanya tersenyum dari sudut.
"Hei,ayo kalian keluar.sudah siap!"Pak Glen bergegas masuk ruang ganti.Kemudian terdiam,
"lakukan yang terbaik yang kalian bisa.kalian pasti bisa!Saya yakin kalian pasti bisa.Betul apa kata Dion tadi.Nikmati saja permainannya."
Kemudian menambahkan,"Bapak percaya pada kalian semua."
Satu persatu anggota tim pun keluar.Sedikit beban lepas dari batin mereka.
"Dion.."panggil Amanda.
Dion menoleh.
"Berjuang keras ya."
Dion membalasnya dengan senyuman.
***
Seorang Bapak-bapak berusia 40 tahunan bergerak melintasi kerumunan orang berseragam merah.Suporter Indonesia.
teriakan I'ndonesia' dan yel-yel Garuda di Dadaku dinyanyikan dengan penuh semangat.
Beberapa memakai atribut berlabelkan Indonesia dan berwarna dominasi merah atau putih.
Suasana riuh sekali ketika para pemain mulai kick off
"Permisi,"kata Bapak-bapak itu,sedikit mengeraskan suara kepada orang yang ada disebelahnya.
"Apa pertandingan sudah dimulai?"
"Apa Bapak tidak lihat?Baru saja dimulai!"kata orang itu.
Bapak-Bapak yang baru saja bertanya itu,membetulkan letak kacamatanya.
Kemudian berjuang melewati kerumunan orang-orang yang menonton bola itu.Berusaha mencapai depan pagar pembatas.
Ah...Itu DIA.kata si Bapak,membatin.Putraku,satu-satunya Putraku.Putra Kebanggaanku.
Ketika Dion berhasi merebut bola dari tim lawan,kemudian membawanya ke daerah kotak pinalti.
Para Suporter berteriak-teriak seru,"ayo..Dion!!" dan sebagainya.
Bapak-bapak itu menoleh kebelakang,mencari asal pendukung yang berteriak tadi.
Kemudian bertanya kepada Bapak-bapak yang ada sebelahnya,
"Pak,yang bernomor punggung 10 itu siapa?"
"Ah,masa Bapak gak tau sih siapa dia?"balas orang yang ditanya.Kemudian bertanya dengan penuh selidik."Bapak pendukung tim mana?"tanyanya sembari meneliti penampilan Bapak-bapak itu,yang tidak memakai atribut Indonesia sama sekali.Hanya kaus dan jaket biasa.
"Indonesia-lah."
"Oh,"Bapak yang ditanya pun tersenyum,dan melanjutkan."Anak bernomor punggung 10 itu Dion Angkasaputra.Striker terbaik Indonesia.Berbakat alam anak itu,katanya dia belajar bola secara otodidak.Tanpa sekolah bola sekalipun!Saya yakin dia bisa menjadi ancaman buat negara lain kelak dia dewasa nanti."jelas Bapak itu,sok tahu.
Bapak-bapak berkacamata itu tersenyum.
***
Dion menggiring bola-nya,terlalu sulit menjebol pertahan tim Malaysia yang tangguh itu.
Ia berhenti,dan melihat sekeliling.Dimana teman-temannya?Ow..ternyata teman-temannya sudah dihadang oleh masing-masing pemain tim lawan.
Dia sendiri sudah terkepung,padahal jarak ke gawang tinggal beberapa meter lagi.
Tak ada pilihan lain.Ia berancang-ancang,dan menendang...
***
"GOOLLLLL................!!!!!!!!!!!!!!!!!"
teriakan para suporter Indonesia membahana,bagai membelah langit.
Sebuah gol indah tercipta dari kaki kiri Dion.
Bapak berkacamata yang sedari tadi memperhatikan Dion,ikut berteriak.
Orang yang sedari tadi menjawab pertanyaan Bapak-bapak itu pun heran,dan bertanya
"Apa Bapak gak tau kalo Dion itu pemain berkelas?"
Bapak berkacamata hanya tersenyum,"Bapak penggemarnya,ya?sepertinya tahu betul."
"Tentu saja,Pak.Lihat nih kaus yang saya pakai,ada namanya dia."sahut Bapak itu polos,memperlihatkan punggungnya yang memang benar,baju bola berwarna merah itu ada namanya,DION.Persis sama seperti yang dikenakan Dion.
"Dion pasti anak yang baik,ya.Memiliki banyak penggemar."kata Bapak berkacamata itu.
"Iya,Pak.Selain anaknya ramah sama penggemar.Dia sangat rajin dan disiplin.Bapak kenapa sih dari tadi nanyain Dion melulu?Ada hubungan apa Bapak sama dia?"
tanya orang itu,penuh selidik.
Bapak berkacamata hanya tersenyum simpul,"saya...AYAHNYA."
***
Dion merentangkan kedua lengannya sambil berlari-lari ke dekat penonton.
Itulah gayanya ketika usai mencetak gol.
Di bangku pelatih,Ia melihat Amanda tersenyum lebar padanya.
"Teman-teman,Kita harus berjuang kembali."seru Fahri,sang Kapten."Biarkan Garuda terbang bebas hari ini."
"Betul!"sahut anggota timnya,sambil tertawa-tawa.
***
"Bapak Ayahnya Dion?"tanya Orang itu,tercengang.
"Ya,dia putra saya.Putra kebanggaan saya."
"Wah,"dengan cepat,orang itu menyambar tangan Ayah Dion,menjabat tangannya kuat-kuat.
"Bapak beruntung memliki putra seperti itu."
"Ya,"jawab Ayahnya Dion."Sayangnya,akhir-akhir ini,ada pertengkaran kecil antara kami berdua.Itu sebabnya saya menyusul kesini."
Orang itu tersenyum."Sampaikan salam saya buat putra Bapak."
"Pasti."
***
Babak kedua final ASEAN YOUTH CUP usai dengan skor akhir 1-0.
Serangan dari kedua tim sama-sama kuat,dan tak mau kalah.
Tak mau tertandingi.
Nyanyian Indonesia Raya membahana diseluruh Suporter Indonesia.
Para anggota tim Indonesia,berdiri berjejer untuk menerima medali yang dikalungkan oleh Panitia Tuan Rumah.
Para wartawan sudah siap siaga dengan kameranya,mengambil gambar yang langka terjadi.
"Oke,bareng-bareng ya?1..2..3!!"Fahri memberi aba-aba anggota timnya,untuk bersama-sama mengangkat piala.
Kegembiraan terpancar diwajah semuanya.
Setelah sesi penutupan usai,Dion kembali keruang ganti.
Sebagian besar Anggota timnya,sedang bertemu dengan anggota keluarganya yang memang menonton langsung di stadion,.Teriakan para suporter masih terdengar dari luar.
Dion terdiam di lorong yang menuju ruang ganti pemain.
Andaikan Ayah ada disini,batinnya.Aku sudah membuktikannya kan,Yah?
"Dion..."
Dion memiringkan kepalanya.
"Dion..."
Dion menoleh."AYAH!"
Dion berlari ke ujung lorong,menghampiri Ayahnya yang merentangkan kedua lengannya.
Kemudian memeluknya erat-erat.Seperti tak mau melepaskannya.
"Putraku,Putra kebanggaanku..."
"Bagaimana Ayah bisa disini?"tanya Dion setelah melepas pelukannya.
"Ayah terngiang-ngiang kata-katamu.Maka,tadi pagi Ayah langsung berangkat kesini."
"Betulkah?Aku bangga padamu,Yah!"Dion merasakan kerinduan suara Ayahnya.Ayahnya yang selama ini bungkam,dan jarang bicara.
"Justru sebaliknya,Ayah yang bangga padamu,Dion."kata Ayah."Tahukah,kamu?di bangku penonton tadi,banyak orang yang mengenakan baju yang serupa denganmu?"
Dion mengangguk-angguk senang.
"Ayah minta maaf atas sikap Ayah selama ini."kata Ayah
"Tidak,Aku yang minta maaf."kata Dion,kembali memeluk Ayahnya."Aku mau jadi Dokter,sambil meneruskan bermain bola.Boleh kan,Yah?"tanyanya,meminta persetujuan.
"Ayah menyetujui apa yang kamu mau,itu jika sesuai dengan norma."kata Ayah."Itu perjanjian kita sekarang."
Kedua Ayah dan Anak itu pun saling berbicara banyak.Melepas rindu selama hampir 10 tahun tidak berbicara dari hati ke hati.
***
"Dion,wartawan memintamu hadir."suara Amanda dari ujung lorong.
"Hai,Amanda."kata Dion,ceria."Ini Ayahku."
Amanda mengangguk hormat pada Ayah Dion,"permisi,Pak.Saya putri dari Pak Glen."
Ayah Dion serta merta mengangguk,"pergilah,nak.Wartawan menunggumu."
"Oke."Dion pun mengikuti Amanda.
"Ayahmu sudah menyadarinya,kan?"tanya Amanda.
"Begitulah,"jawab Dion."Aku senang sekali."
Di dekat lapangan,masih banyak wartawan yang berkumpul,rombongan suporter,panitia,anggota tim,beserta keluarganya.
"Nah,ini dia striker andalah kita.DION!"seru Pak Glen,bersemangat.
"Dion,kabarnya kamu akan terpilih menjadi pemenang MVP tahun ini.Betulkah?"
"Apakah kamu memiliki hubungan khusus dengan seseorang yang spesial?"
"Presiden memberimu beasiswa,bagaimana pendapatmu dengan dunia pendidikan?"
"Gol-mu tadi sangat fantastis,bagaimana mungkin kamu bisa membuka celah diantara pemain lawan yang mengunci ruang gerakmu?"
dan lainnya.dan lainnya...
Dion gelagapan,tak terhitung ribuan pertanyaan keluar dari para wartawan.
Yang,pasti..Aku senang hari ini.batin Dion,semua masalah sudah selesai.Indonesia keluar sebagai juara,Ayah percaya padaku.Tapi....tunggu!masih ada satu masalah lagi!!yaitu...
sejurus kemudian,Dion menoleh cepat kearah Amanda.
Andaikan detik itu juga,Dion tidak menoleh pada Amanda,tak seorang pun yang sadar bahwa Amanda mengeluarkan darah dari mulutnya.
***
Perjalanan menuju RS sangat lama sekali bagi Pak Glen,masih memakai jas Beliau memangku putri tunggalnya.
Keringat dingin membanjiri tubuhnya,Oh,Tuhan...selamatkanlah,Putriku.
***
Hingga pukul 12 malam,Dion masih ditahan di Hotel bersama teman-temannya yang dihujani ribuan pertanyaan dan kilat flash dari mata para wartawan.
"Bolehkah Aku menengok Amanda sekarang?"pinta Dion,kepada Pak Dedy,asisten Pelatih.
"Boleh,tapi..."Pak Dedy memandang ke sekitar,"Kamu harus menyamar saya kira.Kamu sudah jadi hot news malam ini,Dion.Kamu Pahlawan malam ini.Tapi,saya rasa kamu pantas mendapatkan kembali hak kamu."
Dion mengangguk.Kemudian cepat-cepat berlari menuju pintu belakang bersama Ayahnya.
***
"Dion?"Pak Glen mendongak ketika Dion memanggil namanya.Beliau sedang duduk diruang tunggu RS.
"Bagaimana keadaan Amanda,Pak?"tanya Dion.
"Semakin memburuk,"keluh Pak Glen,Beliau menutupi wajahnya dengan tangan."Jika tidak ada donor hati.Ia tidak akan tertolong..."
Dion terpana mendengarnya,kemudian memandang Ayahnya yang hanya terdiam membisu.
"Kita doakan yang terbaik buat Amanda ya,Pak!"
***
Beruntung,tim medis bertindak sangat cepat.
Amanda memperoleh hati yang mungkin cocok dengan dirinya.
Operasi akan dilakukan pagi harinya.
Dion hanya sedikit istirahat malam itu,beruntung tak ada wartawan yang mengejarnya sampai RS.
Tetapi,Ia mendengar sedikit cerita dari Fahri,bahwa para Wartawan itu mencari-cari dirinya.
Berita Dion akan menjadi hot news di Indonesia,katanya.
Betul apa kata Pak Dedy kemarin malam.
"Dion?"
"Amanda?"Dion bergerak mendekati temannya yang masih lemah itu."Bagaimana keadaanmu?"
Amanda menjawab dengan senyum pilu.
"Tenang saja,kamu akan segera mendapatkan donor hati,Amanda.Kamu akan segera sembuh."
Amanda menggeleng lemah.
"Tidak,Dion."katanya."Tubuhku sudah lemah,dan mungkin sudah tidak bisa diselamatkan lagi."
"Tak mungkin!"elak Dion."Tenaga medis pasti..."
"Apa sih yang Tuhan tidak bisa?!"tanya Amanda."Tenaga medis hanyalah ciptaan Tuhan yang berusaha membantu meringankan beban orang sakit."
Pak Glen yang mendengar itu hanya bisa diam.Sama seperti Ayah.
"Terima Kasih sudah memberikan gol terindah untuk Indonesia,Dion."kata Amanda."Kamu tetap sahabatku yang baik."
***
2hari kemudian...
Dion kembali pulang ke Tanah Air.
Dan betul saja,batu tiba di airport,Ia sudah disambut gila-gilaan oleh para pendukungnya.
Kepulangannya yang terkesan terlambat dibanding teman-temannya yang lain menimbulkan misteri.
Bahkan,wajahnya amat murung.Tak menunjukkan keceriannya sama sekali.
Ketika para wartawan merubungnya,Dion hanya diam dan terus melangkah ke depan.
***
Joselin menangis dipelukan Ibunya.
Operasi Amanda gagal.Hati yang didonorkan untuknya tidak berfungsi dengan semestinya.
Dion duduk dibangku rumah Pak Glen,termenung.
Pak Glen bahkan tidak mau angkat bicara.Pak Glen yang dahulu selalu membakar semangat para pemainnya.Kini diam.Api yang dulu selalu membakar semangat Dion dan teman-teman,kini telah padam.Bersama dengan padamnya jiwa Amanda.
***
Latihan Sepak Bola ditunda,Pak Glen belum bersedia mengajar kembali.
Dion,yang saat itu berada di stadion,berbaring telentang di lapangan berumput itu.
Aku rindu wangi rumput segar yang baru dipotong...pikirnya.Betapa Aku sangat merindukan lapangan hijau,dan BOLA.
Sudah hampir 2 bulan Latihan Sepak Bola tidak diadakan.2 bulan setelah kepergian Amanda.
"Dion?"
Dion menoleh,Joselin dan Raffi,menarik-narik tangan seseorang.Ya,Pak Glen!
"Ini!"Joselin melempar sebuah bola ke arah Dion."Bermainlah!"
"Apa maksudmu?"tanya Dion,tak mengerti.
"Jangan hanya kepergian Amanda membuat Dion dan Om Glen jatuh dalam kesedihan!"kata Joselin."Bola adalah hidup kalian!"
"Betul,"kata Raffi."Amanda pasti sedih melihat kalian berdua."
Dion menatap Pak Glen yang akhir-akhir menjadi pendiam.Pak Glen telah kehilangan satu-satunya lentera dalam hidupnya.
"Mereka berdua benar,Pak."Dion menaruh bola itu dikaki Pak Glen."Bermainlah."
Dion dan Pak Glen pun saling tatap,dan tersenyum penuh arti.
"Siap,Dion?"tanya Pak Glen.
Dion mengangguk."Oke!"