Sabtu, 31 Juli 2010

cerpen gua,nihhh....:p


eniwei,gw ada stok cerpen nih satu.sapa tau ada yg mau baca gtu.
(abis dbaca,djadiin bungkus nasi uduk)
sori" aja ya kalo jelek.soalnya gw ngetiknya buru" bgt sih.sok"an gtu nulis dalam tenggat waktu sehari.abis itu gw kirim deh ke redaksi STORY via e-mail.dan kayanya ga dtrima deh,soalnya gak ada e-mail balasan :(
tapi gapapa,sih.mungkin gw harus brusaha LEBIH lagi,belom rejeki aja (sok alim)
guys,doain gw ya,gw kan jga pengen cerpen gw ada dimajalah.ga digaji gapapa dah,keinginan gw cuma pengen tulisan gw dibaca smua orang (tsah!)
oke,silakan membaca...


SALURAN 109.4 FM

Setiap malam,selepas Isya.Kau dapat menemukanku duduk manis di meja belajar.Mengerjakan PR,menulis jurnal harian,atau hanya sekedar menyapa teman-temanku di dunia maya.Itu sudah menjadi rutinitas harianku setiap pukul 7 malam.Hanya suara Mama atau Bik Iyem yang memanggilku untuk makan malam yang bisa meninggalkan tempat itu.Ya,aku senang menyendiri.

Malam itu,aku duduk termenung dimeja belajar,”huh,bosan!”keluhku tak berselera.Malam ini,aku memang janya tinggal berdua saja dengan Bik Yem.Seluruh anggota keluargaku memang sedang pergi keluar kota.Aku sengaja menolak ikut,karena besoknya ada acara sekolah.

‘Tak heran,aku merasa kesepian mala mini.Iseng-iseng,aku beranjak kekamar kakak sulungku,kak Nino.Lalu mengambil radio kecil di lemarinya.Kemudian,dengan sangat hati-hati,aku memutar-mutar tombol tunnel untuk mencari frekuensi bagus yang enak untuk didengar.Jemariku berhenti,kala mendengar alunan lagu piano klasik.Enak sekali rasanya mendengar suara dentingan piano yang sayup-sayup malam ini.Moodku pun kembali seperti semula.Setelah satu bait lagtu terhenti,bicaralah seorang penyair,yang kukenal suara cowok,”Malam semua!”sapanya,ceria sekali.”Jumpa lagi dengan Marvo di frekuensi 109.4 FM,saluran Remaja Masa Kini.”

“Tadi kita sudah dinina-bobokan oleh dentingan piano dari Bach.Sekarang,kita kembali lagi di Acara Curhat Cinta bersama Mas Teddy.Apa kabar,Om?”

Terdengar suara cekikikan,suara cowok yang lebih berat.

“Oke,bagi siapa yang mau diramal.Kami tunggu di line-telepon dan di line SMS,di 08-10-99-10.Halo?dengan siapa?dimana?”Marvo kembali bersua.

Terdengar suara Si Penelpon.

Aku mulai paham dengan jalannya Acara Curhat Cinta ini.Pasti Mas Teddy itu peramal yang bersedia meramalkan para Pendengar.Dan,tebakanku tidak meleset.

Si Penelepon,bersuara cewek,”halo.Ini Ninit di Tangerang.”

“Halo juga Ninit.Ada yang ingin ditanyakan dengan Mas Teddy,Peramal Cinta kita?”Tanya Marvo,ramah.

“Iya,Kak Marvo.Aku mau nanyain soal hubunganku sama Mantan.Apa masih bisa balik lagi,ya?”

‘Weleh,masih ngarep gitu’.Pikirku,jahil.

“Oke,Ninit lahirnya kapan?”Tanya Mas Teddy.

“22 Mei 1991.”jawab Ninit.

“Kalo Mantannya?”

“1 Maret 1991.Namanya Ricky.”

“Ricky Harun bukan tuh,Nit?”terdengar suara celetukan Marvo.”Atau Ricky Harum?”

“Pengennya sih,Ricky Harun,kak.”kata Ninit centil.

Sementara itu,terdengar suara seseorang sedang mengocok kartu.Kemudian,Mas Teddy meminta Ninit untuk duduk dan menaruh tangan kirinya didepan dada.

“Ninit,ada 4 kartu disini.Kamu pilih yang mana?”Tanya Mas Teddy.

“Nomor 2 aja,Nit.Kartu kematian,tuh.”celetuk Marvo,kurang ajar.

“Ih,kakak!”seru Ninit.”Nomor dua deh,Mas.”

“Tuh,kan.nurut sama gua.”kata Marvo,cekikikan.

Mas Teddy pun membacakan ramalannya,”kamu gak bisa balik lagi sama Mantan kamu itu,Nit.Udah ada yang lain dihatinya.”

“Yahh…”

Aku mendengar suara desahan kecewa disuara Ninit.Dalam hati,aku ngakak juga.’Hey,plis deh.Mantan masih diharap-harapkan juga?Itu cerita lama kale..’

“Tapi,ada yang lagi deketin kamu tuh,Nit.Ciri-cirinya,rambutnya agak-agak jigrak,trus kulitnya agak-agak putih,matanya belo…”

“Terus,punggungnya bolong.”potong Marvo.

“Itu mah Nenek lo,Vo”kata Mas Teddy.

“Oke,oke.Ada lagi yang ditanyakan,Nit?”Tanya Marvo.

“Enggak ada,kak.Makasih,ya.Bye!”Ninit pun memutuskan saluran telepon.

‘Ih,wow.Ternyata seru juga Acara ini.’Semenjak itu,setiap pukul 8 malam,aku pasti setia mendengarkan radio,di frekuensi yang sama.109.4 FM.

Beberapa Minggu kemudian…

“Mau kemana kamu,Cha?”Tanya kak Nino.

“Mau nonton sama Kevin.”jawabku,centil.Sambil sibuk menyisir rambut.Sore itu,aku dandan habis-habisan demi Kevin,Pacarku.Hubungan kami memang sudah berjalan hamper 1 tahun lebih.

“Oh,baliknya gak malem-malem,kan?”

“Enggak.Paling jam 9 udah balik,kok.”

“Oke.BTW,kok radio gue suka ‘nginep’ dikamar kamu,ya?”Kak Nino,memandangku curiga.

“Hehehe,”aku nyengir.Memang akhir-akhir ini,aku sering ‘meminjam’ radio Kak Nino.”Maaf.”

“Iya,deh.Buat Adikku”Kak Nino tersenyum,sambil mengelus rambutku pelan-pelan.Takut berantakan lagi.

Aku segera meraih tasku,dan mengambil kunci mobil.

Usai Nonton,Aku dan Kevin sepakat berkunjung di sebuah Kedai Kopi langganan kami.

“Filmnya bagus,ya!”seruku,bersemangat.Sementara Kevin,yang duduk diseberangku,hanya diam,dan membisu.

“Kevin,kamu kenapa?”aku mengelus bahunya,tapi ia menjauhi bahunya dari jangkauan tanganku.Aku baru menyadari,kalau dari tadi,ia hanya diam terus.Dia jarang bicara,hanya sesekali mengatakan “ya”,atau “tidak”.

“Kevin,kamu kenapa?sakit?”Aku kembali mengulang pertanyaanku,cemas.

“Icha.”kata Kevin pelan.”Kamu tau,kan.Hubungan Kita gak akan pernah terus berlanjut?”

“Maksud Kamu,Kev?”Aku terkejut setengah mati.

“Besok,Aku akan pergi ke Amrik.Sekolah disana.”

“Ta..tapi,Kita masih bisa ketemu lagi kan,Kev?Kita masih bisa terus berhubungan?”

Kevin menggeleng keras-keras.”Enggak.”

“Apa?!”Aku ternganga tak percaya.Apa maksudnya?

“Kamu tau,Cha?Aku udah dijodohin sama Orang Tuaku.”Kevin menunduk.Tak berani menatap Sepasang Mata yang bias karena air mata.“Namanya Sheila.Dia putrid Rekan kerja Papiku.”

Ya,Tuhan.Aku tak menyadari hubunganku dengan Kevin akan berakhir seperti ini.Sungguh aku tak menyangka sekalipun.Tanpa bicara lagi,aku berlari ke Parkiran.Dan menyetir mobilku setengah mengebut menuju Rumah…

Aku tak mengacuhkan pertanyaan Bik Yem padaku.Aku membanting pintu,dan melempar tasku.Wajahku kotor oleh air mata,lapisan make-up yang aku poles habis-habisan diwajahku.Terhapus begitu saja.Aku melemparkan diriku di Tempat tidur,dan menangis sepuasnya dalam bantal.Pantas saja,Kevin selalu bersikap dingin padaku.Pantas saja,aku merasa dia setengah hati padaku.AKU BENCI KEVIN!Kalo sudah begini,aku harus menemui orang untuk tempat curahan hatiku.Tapi,siapa?Aku melirik ke jam dinding.

Jam 10.Jam segini,Riffy,sahabatku pasti sudah tidur.Mama pasti juga begitu.Lama aku terdiam,hingga akhirnya.Aku memilih mengambil ponselku ditas.Setelah membuka Phonebook,aku menelepon,”Halo.Marvo?”

Marvo sangat baik padaku,malam itu.Di Malam Kevin memutuskanku.Aku menghubungi Marvo yang memang sedang siaran di Radio.Kebetulan memang lagi ada Acara Curhat-curhatan,yang kebetulan bertema My Diary.Jadi,Aku bebas curhat apa saja lewat line-telepon.Marvo menasihatiku.Dan menerima lagu requestku diputarnya.Tak lupa,aAku menyebut Kevin sebagai Pembohong,Semoga saja Ia mendengar suaraKu di Radio.

Rasa-rasanya,Aku mempunyai Sahabat yang Aku sendiri tidak mengenalnya.Hingga sekarang,Aku sudah berteman dengan Marvo melalui sebuah situs jejaring sosial.Tentunya,Marvo memberikan alamat akun facebooknya yang memang khusus untuk para Pendengarnya.Pasti dia juga memiliki akun pribadi.

Pada Suatu Siang…

Sahabatku,Riffy,mendekatiku.”Hai,Cha.”

“Hai,Fy.”balasku.

“Lo pulang sekolah nanti enggak sibuk kan?”tanyanya,agak mencurigakan.

“Enggak.Kenapa?”Aku menatapnya heran,sambil menyandang tasku.Tumben sekali Riffy menanyakan kegiatanku setelah pulang sekolah.

“Lo bawa mobil,kan?Anterin gue dong,please.’Ntar gue ganti deh bensinnya.”Riffy merayu.

Aku pun mulai paham,”Memangnya mau diantar kemana,Fy?”

“Ke Jln.Gatot Subroto.”

“Ngapain?”

“Gini loh,Cha.”Riffy memulai.”Gue pengen nyoba-nyoba kerja magang di sebuah Radio.Lumayan kan,gue dapet pengalaman kerja di broadcasting?”

“Oh,”Aku mengangguk,mengerti.”Okelah,buat Sahabatku.Tapi,dari pada Lo beliin bensin.Mendingan,Lo traktirin gue makan siang aja.Gimana?”

“Setuju,deh!”Riffy menjabat tanganku,girang.

Sesuai rencana,sepulang sekolah,Aku mengantar Riffy ke Alamat yang dituju.Sesampainya di tujuan,Aku memarkirkan mobilku didepan sebuah gedung sederhana.Dari dalam mobil,Aku dapat melihat spanduk besar yang terpampang jelas di depan Gedung tersebut.109.4 FM,RADIO REMAJA MASA KINI.

Oh,jadi ini toh Kantor Radio yang selalu setia Ku dengar itu?

Riffy turun lebih dulu dari pada Ku,ditangannya sudah ada amplop cokelat yang isinya pasti berisi CV lamaran kerja magang.Aku dan Riffy duduk di ruang tunggu,beberapa saat kemudian.Riffy dipersilahkan masuk ke ruangan pimpinannya.Sementara Aku menunggu.

“Sip!”kata Riffy,ketika Ia keluar dari ruang Pimpinannya.”Selesai sudah.”

“Gimana?Diterima gak,Fy?”tanyaku,penasaran.

“Gue harus ikut Pelatihan Penyiaran dulu selama 2 minggu.”

“Oh,semoga berhasil ya.”

“Tengkyu,sayang.Sesuai janji Gue tadi,gue mau traktir lo.Oke?”

Aku mengangguk,dan mengikuti langkah Riffy.Dia mengajakku ke Seberang Kantor tersebut.Yang rupanya ada beberapa Restoran Kecil.Ternyata,Riffy sudah melihatnya saat turun dari mobil tadi.

Setelah menuliskan semua pesanan pada Karyawan restoran tersebut.Aku dan Riffy duduk menunggu.

“Fy,mang lo suka denger 109.4 FM,apa?”tanyaku.

“Iya.”jawab Riffy,kalem.”Makanya,waktu itu,gue denger suara lo waktu lo diputusin sama Kevin.”

“Hah?Lo denger?”Aku terkejut.

“Iya,gue denger lo nangis-nangis segala waktu nelepon.Sabar ya,Cha.”

Aku termenung,aku udah bisa lupain Kevin sekarang.Tapi,kenapa masih keinget-inget?Padahal kejadian itu kan udah berlalu lebih dari 2 bulan yang lalu.Huft!

Tatkala Aku termenung,Aku mendengar langkah kaki seseorang,”Bang,Gado-gadonya satu ya?”

Aku mendongak,Aku kenal suara itu!itu pasti suara…MARVO!!

“Iya,yang biasa kan,Vo?”Tanya si Penjual.

“Iya,dong.”jawab Marvo.

Aku memerhatikan Marvo,Ia memakai t-shirt berwana putih,jaket olah raga biru,dan jeans.Cowok itu berbalik dan menatapku.

“Hai,”sapaku.”Kamu…Marvo ya?”

Marvo memandangku,agak heran.Mungkin ia bingung bagaimana Aku bisa mengenalinya.Riffy juga memandangku,heran.

“Iya.Kamu siapa,ya?”Tanya cowok itu,cuek.

“Gue,Icha.Pendengar 109.4 FM”.

“Oh,”Marvo paham.”Gue inget sekarang,lo cewek yang waktu itu malam-malam nelpon sambil nangis-nangis,kan?”

“He-eh.”Aku setengah mengangguk,malu juga Aku.Kedengerannya lemah banget.Nelpon Penyiar Radio,curhat sambil nangis-nangis.

Marvo tersenyum.Ia mengulurkan tangannya padaku.”Panggil aja gue Revo.”

“Revo?”Aku menyambut uluran tangannya.

“Iya,Marvo itu nama samaran gue kalo lagi siaran.Nama gue Revoandi Bayu Putra Angkasa.Umur gue 18 tahun.”Delapan Belas?Berarti,Ia dua tahun lebih tua dariku.

“Gue Marissa Verdhana.Panggil aja Icha.”

“Udah tau,kok.”Revo nyengir.Ternyata,dia sekocak seperti yang ku dengar.

“Oya,ini Riffy.Temen gue.”

Riffy menjabat tangan Revo dengan bersemangat.”Gue Riffy.Lo tau gak?Gue ngefans banget sama lo.”

Revo cengar-cengir.”Lo Riffy yang ngelamar kerja magang disini,ya?”

“Iya!”tampaknya,Riffy seneng banget.Layaknya hari Ulang Tahunnya dimajukan lebih awal.

“Semoga berhasil,ya!”Setelah tukar-menukar nomor ponsel.Revo meninggalkan Aku dan Riffy.Aku tersenyum memandangi punggungnya yang lamat-lamat menjauhi Kami berdua.

Beberapa Bulan Kemudian…

Riffy berhasil menembus berbagai pesyaratan yang wajib diikuti oleh para Penyiar Magang.Aku yang melihatnya,ikut senang.Karena dengan begitu,mungkin Aku bisa berjumpa dengan Revo.Jika sedang siaran,Revo akrab denganku,dia suka bercanda.Aku mulai terhibur bila ada suaranya dispeaker Radio.Kini,kemana-mana,aku senantiasa menyetel Radio dimobilku.Tentu saja dengan frekuensi yang sama.Lama kelamaan,Aku bisa melupakan Kevin sepenuhnya.Aku kembali menjadi Icha yang dulu.Yang selalu ceria,dan riang.

Setiap pulang sekolah,Riffy selalu berkunjung ke Kantor tempatnya Magang.Kadang,ia mengajakku kesana.Sekadar menyapa para Penyiar,atau ikut-ikutan membuka line SMS dikomputer.

“Hei,Icha.”sapa suara yang kerap kuakrabi di Radio.

“Hei,Revo.”

Revo mengambil tempat untuk duduk disampingku,saat itu,Aku sedang menunggu Riffy diruang tunggu.

“Lagi nungguin Riffy,ya?”tanyanya.

“Iya,Kak.”Aku sengaja memanggilnya Kakak.Agar terdengar sopan.

“Jangan manggil Kakak,dong.”kata Revo.”Kita kan Cuma beda 2 tahun.”

“Oh,oke.”Belakangan.Aku tahu dari Riffy,kalau Revo ini adalah Mahasiswa di sebuah Universitas Negeri di Jakarta jurusan Arsitektur.

“Ehm.”Dia berdehem.Aku tahu maksudnya.Dia agak kikuk.”Lo..Lo udah bisa lupain cowok lo yang kurang ajar itu?”tanyanya.

“Sudah.”jawabku,kaku.”Kenapa?”

“Karena..”Revo menunduk,”Gue juga pernah disakitin gitu,sama kayak lo.”

“Maksud lo?”Aku memandangnya.Dan,Revo balas memandangku.

“Waktu lo nelpon gue malam itu,”Revo memulai.”Gue udah mulai merasa simpati sama lo,Cha.”Aku mendesah.Ternyata,dia belum lupa.

“Namanya Luna.”Kata Revo,pelan.”Dia ninggalin gue.”

“Kenapa?”

“Sama kayak lo.”Revo tersenyum pahit padaku.”Dia lebih memilih cowok lain dibanding gue.”

“Sorry.”Kataku akhirnya.

“Gak papa,”Revo menggedikan bahu.”Kita sama-sama pernah disakiti.”

“Yeah.”Aku menunduk.Menahan air mata.’Mana semua janji manismu itu,Vin?’

“Sampai sekarang,gue gak bisa ngelupain dia.”kata Revo.”gue kagum sama lo.”

“Kagum kenapa?”

“Lo bisa lupain dia.”

“Hem.”Aku menghela napas.Revo mengulurkan sapu tangannya padaku,Aku paham maksudnya.Aku menghapus air mataku.Sebab,Aku tidak ingin Riffy atau siapa pun melihatku menangis lagi.

Aku dan Revo semakin dekat.Kami layaknya Kakak-Adik.Saling bicara,saling mendengarkan.Hingga,pada suatu saat.Revo mengajakku jalan berdua saja.

“Gue mau ngajak lo ke suatu tempat.”katanya ketika kutanya.

Dan,Aku menurut.Revo mengajakku ke sebuah Restoran yang suasananya sangat romantis.Tempatnya di dekat Danau,sehingga Aku bisa melihat beberapa Angsa yang berenang dikejauhan.Mengawasi Kami berdua.Kami duduk berdampingan.Dan saling menunggu seseroang untuk bicara,memecahkan keheningan.

“Lo tau kenapa gue ajak kesini?”Tanya Revo.Dan Aku menggeleng.

“Kita menunggu seseorang.”

“Siapa?”tanyaku,penasaran.

“Liat aja nanti.”Revo mengedipkan matanya.”Adikku.Dia baru pulang dari Amrik.”

Amrik?Deg!Apa mungkin??

Dan,yang ditunggu pun datang juga.Seorang cowok,berpakain kasual,menggandeng seorang cewek yang berperawakan berambut panjang dan berkulit putih.Pasangan tersebut pun mendekati meja ku dan Revo.Dan…Astaga,Aku terpana.Cowok itu,ya..cowok itu.Cowok yang dimaksud Revo sebagai Adiknya itu,adalah…Kevin!

“Nah,”kata Revo,memahami keheranan diwajahku.”Ini Adikku,Kevin Putra Angkasa.”

Kevin menjabat tanganku yang sudah sedingin es.Apa maksud Revo?Aku memandang Revo yang terlihat sedikit tegang.Aku tahu,bahwa cewek yang ada disisi Kevin,pastilah Sheila.Cewek yang dimaksud Kevin saat Ia memutuskanku.”Lo pasti kaget ya?”bisik Revo.Ketika Kevin dan Sheila duduk dimeja yang agak jauh dari kami.

“Sangat.”kataku,”maksud kamu apa,Revo?”

“Justru,”Revo menjawab dengan kikuk,”Kevin lah yang harus ditanya begitu.”

“Maksudnya?”

“Gue udah lama tau soal lo,Cha.”kata Revo.”Kevin cerita banyak tentang lo,kalo lo itu cewek baik,polos,tapi periang.”

Aku mengernyitkan dahi mendengar cerita Revo.

“Dia juga cerita ke gue,pas dia mutusin lo.Dia minta ke gue,buat jagain lo,Cha.”Revo tersenyum kaku.”Dan,seperti sudah direncanakan.Gue berhasil dipertemukan sama lo.”

“Kevin sayang banget sama lo,Cha.”Revo melanjutkan.”Tapi dia gak mungkin ingkar sama Papi-Mami kalo dia nolak dijodohin sama Sheila.”

“Oke,”Aku mulai dapat menguasai diri.”Sekarang,Lo mau apa?”

“Gue mau lo jadi sweet darling gue.”Revo nyengir.

Aku terhenyak.

“Mau,kan?Gue sayang sama lo,Cha.Lo sahabat gue yang baik.Apalagi,Kevin yang minta gue buat ngejagain lo.”

Aku masih terdiam.

“Mau ya?”Revo masih berusaha.”Would you be my sweet darling,Cha?”

Aku tersenyum.Ya?Kenapa tidak?Mungkin ini memang jalan Tuhan?Aku menyambut uluran tangan Revo,yang mengajakku menemui Kevin.

Beberapa tahun kemudian…

Icha mengelus pigura foto ditangannya.

“Ngeliat apa?”tegur Revo.Icha tersenyum.

“Foto kita.”

“Oya?Foto yang mana?”Revo pun menurunkan kardus berisi barang-barang.Dan,datang mendekat.

“Foto waktu kita pertama kali ketemu.”

“Oh,pas sama Riffy ya?”

“Iya.Hehehehe.”

Icha dan Revo memandangi pigura yang usianya sudah 8 tahun itu.

“Rasa-rasanya,baru kemarin ya Kamu minta foto ke Aku.”kata Revo,jahil.

“Hahahaha,rasa-rasanya,bodoh sekali waktu Aku nelpon Kamu nangis-nangis malam itu.”

“Tapi,sekarang udah gak nangis lagi,kan?”

Icha menggeleng kuat-kuat,”enggaklah!”

Mereka berdua pun saling tersenyum,kemudian kembali ke aktivitas yang sebelumnya.Menata kembali Rumah Idaman mereka berdua.

Samar-samar,terdengar suara kemeresek Radio diruang tengah.

“Pagi semua!”sapa suara ceria itu.”Jumpa lagi dengan Riffy di 109.4 FM.Radio Remaja Masa Kini.Salam buat Kedua Sahabat Gue,Icha dan Revo.Selamat Menjalani Hari Baru,yah.Bagi yang mau request-request lagu,kirim-kirim salam,Riffy tunggu di line SMS.oke?”



gimana?bagus gak?bagus gak?
(dilemparin pisang sma kacang)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar